Jumat, 26 November 2010

Seluk beluk Kepemimpinan


“Rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan, tetapi terlaksana kalau penasehat banyak ” (Amsal 15:22).
PENGANTAR
Apa sesungguhnya manajemen itu, apa hubungannya dengan kepemimpinan dan administrasi. telah diterangkan sebelumnya bahwa manajemen adalah fungsi umum kepemimpinan, dimana tatkala pemimpin memimpin, maka ia memasuki kawasan manajemen dan memanejemeni. Sedangkan administrasi adalah fungsi khusus kepemimpinan, dimana tatkala pemimpin memanejemeni maka ia menyentuh fungsi administrasi yang berhubungan dengan pelaksanaan tugas-tugas langsung. Tugas-tugas administratif dalam kepemimpinan ini adalah pekerjaan yang rinci yang bersifat operasional. Pekerjaan rinci yang operasional ini meliputi tiga jenis tugas, yaitu tugas dasar, tugas utama dan tugas pendukung.[1] Dalam membahas pokok seputar manajemen, maka akan diuraikan hal-hal berikut, yaitu antara lain:Pertama, makna manajemen; Kedua, sejarah perkembangan ilmu manajemen; dan Ketiga, Unsur-unsur manajemen.
  1. 1. MAKNA MANAJEMEN. Apa sebenarnya “manajemen” itu? Manajemen (management),  yang berasal dari kata Inggris to manage  berasal dari istilah Perancis “maneggiare, manegio, menege,” yang bersumber dari istilah  Latin “manus” yang berarti tangan. Berdasarkan penjelasan di depan, arti dari istilah manajemen ini adalah “menangani” atau “mengelola.” Dalam penggunaan asli, kata menajemen dipakai untuk menjelaskan “upaya melatih (seekor kuda) guna mengatur kecepatan berjalannya; atau menyebabkan terjadinya upaya penanganan, atau menangani / menggunakan (alat), mengontrol, menuntun, atau mengerjakan.”  Dari sisi lain, manajemen pun berarti “ditugaskan untuk mengarahkan, memimpin (conduct), menatalayani (administer), menggunakan (uang, kebutuhan sehari-hari), dsb.” Dari sudut pandang yang luas, manajemen adalah bahagian utuh  dari kepemimpinan, yang merupakan fungsi umum-nya. Dalam perspektif kepemimpinan ini manajemen adalah “seni bekerja sama, seni pemenuhan kebutuhan, seni merangkum, seni mempengaruhi, seni memerintah, seni membuat peta keinginan masa depan, dan seni menggunakan sumber-sumber” Manajemen dalam kaitan ini dapat diartikan sebagai “suatu proses kepemimpinan yang diwujudkan dalam satu sistem kerja terpadu yang olehnya pemimpin dapat menggunakan upaya kinerja sinergis (bekerja bersama dan bekerja melalui bawahan) guna mencapai tujuan yang telah dicanangkan.” Menjelaskan manajemen, Peter F.Drucker mengatakan, “The word management denotes a function and also a people who discharge it. It denotes a social position and rank but also a discipline.” Dari sisi lain, Drucker juga mengatakan, “Management is the specific organ of the modern institution. It is the organ on the performance of which the performance and the survival of the institution depend” (1985:5,6). Memahami makna manajemen seperti diuraikan di atas, perlulah ditekankan bahwa manajemen dari kacamata utuh adalah suatu seni yang telah dipraktekkan untuk jangka waktu panjang dalam berbagai bentuk, namun sebagai ilmu, perkembangannya dapat dilihat pada uraian di bawah ini.
  1. 2. SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU MANAJEMEN. Dari perspektif keilmuan, sejarah perkembangan manajemen menjadi  suatu ilmu berkembang pada dua lingkup yang berbeda.
  2. Manajemen dalam lingkup pertama, dikembangkan oleh Frederick Winslow Taylor (1856-1915) yang dikenal sebagai “The Father of Scientific Management” yang mengawali penemuannya dengan bekerja sebagai seorang magang dan pekerja pada the Enterprise Hydraulic Works di Philadelphia (1875-1878). dalam pekerjaannya, ia menemukan ketidak-efisienan dalam perusahan. Temuan ketidak-efisienan ini adalah antara lain., tidak ada standar kerja, tidak ada acuan pengembangan kerja, tidak ada ketentuan hubungan kerja, dsb., dimana berdasarkan temuan ini, ia akhirnya mengembangkan suatu sistem manajemen pertokoan terkoordinasiyang sekarang disebut manajemen ilmiah.
  3. Pada lingkup lain, Henri Fayol (1841-1925) yang bekerja selama tiga puluh tahun pada “chief executive” dari perusahan tambang Perancis – Commentry-Fourchambault-Decazeville (1888-1918). Dalam pekerjaannya ini, ia menemukan perusahan dalam keadaan pailit. Berdasarkan pengalaman ini maka Fayol kemudian mengembangkan “teori administrasi” yang mengadakan isolasi dan analisa administrasi sebagai bahagian dari manajemen.  Pendekatan ini disebut “functional approach” yang menghasilkan manajemen klasik yang menjadi landasan bagi teori manajemen modern yang berperan sebagai dasar bagi ilmu manajemen sekarang ini. Unsur utama dalam manajemen klasik dimaksud ialah: Perencanaan, Pengorganisasian, Memimpin / Aktualisasi, dan Mengawasi / Mengontrol.
  1. 3. UNSUR-UNSUR MANAJERIAL. Manajemen pada tataran khusus adalah proses kepemimpinan. Sebagai proses, “Manajemen adalahproses kepemimpinan yang diwujudkan dalam satu sistem kerja terpadu yang olehnya pemimpin dapat menggunakan upaya kinerja sinergis (bekerja bersama dan bekerja melalui bawahan) guna mencapai tujuan yang telah dicanangkan.”  Dalam tataran kepemimpinan dan hubungannya dengan manajemen, perlulah ditegaskan bahwa seorang pemimpin (top leader) haruslah memiliki pemahaman dan kecakapan manajemen. Peran utama seorang top leader adalah pemikir (thinker). Pada sisi lain, seorang manajer juga harus memiliki kecakapan kepemimpinan, manajemen, dan administrasi. Peran utama manajer dalam hal ini adalah “perencana terapan” yang bertanggung jawab untuk merencanakan bagaimana menerapkan suatu rancangan strategis. Seorang administrator pun harus memiliki kecakapan kepemimpinan dan manajemen serta administrasi. Administrator dalam hal ini berhubungan langsung dengan pelaksanaan kerja, dimana pran utamanya adalah menyentuh operating core dari seluruh tugas kepemimpinan. Secara lehih khusus, manajemen sebagai proses kinerja kepemimpinanmelibatkan fungsi: 1. Koordinasi (co-ordinating),  2. Perencanaan(planning), 3. Pengorganisasian (organizing), 4. Memimpin (leading/ directing) dan 5. Mengawasi (controlling/ supervizing); yang menghubungkan orang pemimpin dan setiap bawahan dengan peran masing-masing. Di sini, tujuan utama dari manajemen adalah untuk mewujudkan kinerja kepemimpinan yang  efektif, efisien, dansehat dan produktif yang dibuktikan melalui keberhasilan atau sukses dalam upaya memimpin setiap pemimpin sejati.[2]
KEBENARAN TENTANG MANAJEMEN YANG DAPAT DIPELAJARI:
  • Setiap pemimpin dapat disebut top level manager, top leaderkarena sebagai pemimpin ia bukan saja harus mengetahui prinsip manajemen, tetapi tatkala ia memimpin, ia memasuki kawasan manajemen dan memanejemeni. Sebagai top level manager, pemimpin haruslah memiliki kemampuan berpikir yang andal, karena ia bertanggung jawab untuk menetapkan strategi dan taktik manajemen yang pas bagi keunggulan serta keberhasilan kepemimpinannya.
  • Memanemeni bagi seorang pemimpin berarti menjalankan proses menajemen, sehingga ia haruslah piawai mengkoordinasi, membuat perencanaan strategis, mengorganisir tugas dan menempatkan orang yang pas, dan melaksanakan upaya memimpin.
  • Manajer secara khusus ada pada level manajerial sebagai pendukung setiap pemimpin top (top leader/ top manager) yang olehnya ia bertanggung jawab melaksanakan tugas teknokrat(tugas menyiapkan dasar-dasar normatif bagi pelaksanaan tugas), tugas supporting staf (tugas staf pendukung) dan middleline manager (manajer lini), yang memimpin pelaksanaan kerja secara langsung, sebagai atasan dari para administrator.
  • Selamat mengkaji pemahaman manajemen dengan lebih mendalam.

Pemimpin yang Berkualitas

“Pernahkah engkau melihat orang yang cakap dalam pekejaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan di depan orang hina ” (Amsal 22:29).
PENGANTAR
Ada pernyataan menarik, “jangan mengharapkan bahwa sesuatu akan terjadi apabila Anda tidak melakukan apa pun.” Kalau begitu, dengan tidak melakukan apa-apa, tidak ada apa-apa yang terjadi. Dan dapat juga dikatakan bahwa, dengan tidak melakukan apa-apa maka sesuatu sedang terjadi, yaitu, tidak terjadi apa-apa. Pernyataan di atas menyiratkan kebenaran bahwa “ada tempat bagi kerja, ada waktu bagi kerja, ada peran bagi kerja, ada guna bagi kerja.” Di sini dapat ditegaskan bahwa dengan bekerja sajalah maka Anda akan melihat ada sesuatu yang terjadi. Sesuatu yang terjadi ini dapat berupa proses, mulai– berjalan – berakhir dan produk dari kerja, yang dapat dilihat serta dipahami dari berbagai sudut pandang. Dalam kaitan dengan kepemimpinan, kerja bagi pemimpin adalah “upaya memimpin” (leading attempt). Upaya memimpin ini merupakan tugas dan peran penting yang harus dilaksanakan oleh setiap pemimpin. Pemimpin yang melaksanakan upaya memimpin berati ia sedang bekerja dengan memimpin. Dalam hubungan dengan upaya memimpin ini, pemimpin yang memimpin berpikir, bersikap berkata dan bertindak sebagai pemimpin, karena memimpin adalah kerjanya pemimpin.
Pemimpin dalam hal ini harus membuktikan keandalan memimpin dengan upaya memimpin optimal (optimum leading attempt) melalui tindakan atau pekerjaan memimpin yang tangguh. Dari sudut pandang yang sangat khusus, pemimpin yang melaksanakan upaya memimpin berarti ia memanejemeni SDM dan semua sumber dengan efektif, efisien, sehat dan produktif. Memimpin dalam perspektif ini berarti pemimpin memasuki kawasan manajemen, memimpin dengan memanajemeni yang terfokus kepada pencapaian tujuan organisasi. Upaya memimpin ini dibangun di atas sinergi dan simultanitas kerja unggul yang terfokus kepada kepada hasil besar, yang mengantar organisasinya ke arah keberhasilan besar. Upaya memimpin seperti ini dibangun di atas strategi, taktik dan pendekatan kepemimpinan yang kuat, yang kadar kompetitifnya tinggi. Dalam kaitan ini, pemimpin yang berhasrat untuk melaksanakan upaya memimpin berkualitas yang optimal, haruslah memimpin dengan pendekatan yang dinamis, komprehensif dan progresif. Memimpin dari sudut pandang ini berarti pemimpin sedang dan terus berupaya menempatkan diri serta organisasinya untuk tetap  berada di depan dalam percaturan lokal, regional, nasional mau pun global. Inilah indikator utama dari pemimpin yang tahu bekerja dengan melaksanakan upaya memimpin yang berkualitas.
  1. MAKNA UPAYA MEMIMPIN. Apa sesungguhnya makna dari upaya memimpin atau leading attempt itu? Upaya memimpin dapat dipadankan dengan actuating, atau “mengaktualisasikan pekerjaan memimpin.” Actuating di sini menjelaskan tentang pemimpin yang sedang berinisiasi, bergerak, menggerakkan, mengarahkan, mendukung, mengawasi dan mempertahankan dinamika kepemimpinan melalui memimpin. Memimpin dalam kaitan ini berarti pemimpin “bekerja sama, memenuhi kebutuhan, mempengaruhi, merangkum menyampaikan perintah (berkomunikasi), membangun peta masa depan organisasi (menyiapkan perencanaan strategis) dan menggunakan semua sumber.”  Upaya memimpin di sini juga berarti pemimpin memanajemeni atau mengelola kepemimpinannya yang menyentuh peran koordinasi (mengkoordinasi), perencanaan (merencanakan), pengorganisasian (mengorganisasikan), memimpin (actuating) dan mengawasi (supervising, evaluating, refining). Memanajemeni secara khusus di sini berarti mengelola hubungan kemanusiaan guna mewujudkan kerja kepemimpinan. Makna dari memanejemeni hubungan kemanusiaan ini ialah mewujudkan kerja sama melalui “pemenuhan kebutuhan, mempengaruhi secara terencana, berkomunikasi, dalam melaksanakan tugas berdasarkan perencanaan strategis membawa organisasi memasuki masa depan melalui penggunaan semua sumber pendukung.” Sumber-sumber itu adalah antara lain, men (manusia), machine (teknologi),material (materi atau bahan-bahan), money (uang), market (pasar),methods (metode-metode), moment (waktu), dan management systems (sistem manajemen). Pada sisi lain, upaya memimpin juga berarti influencing, yaitu “mempengaruhi secara terencana” yang diawali dengan menciptakan kondisi kondusif yang bertujuan untuk memberikan peluang dan menggerakkan bawahan, sehingga olehnya pekerjaan terlaksana secara sinergis dan simultan. Upaya memimpin secara padat berarti “pemimpin sedang bekerja dengan memimpin.” Bekerja dengan memimpin berarti pemimpin mengerahkan diri, semua komponen SDM dan sumber-sumber untuk melaksanakan tugas organisasi yang diwujudkan dengan menggunakan metode, strategi dan taktik unggul yang bersasaran membawa keberhasilan dalam seluruh proses kepemimpinan.
  1. UPAYA MEMIMPIN DAN DIRI SENDIRI. Pemimpin yang memimpin harus memastikan hal terpenting, yaitu bahwa ia kompeten bagi upaya memimpin itu. Pemimpin kompeten dalam upaya memimpin berarti ia memenuhi kriteria baik secara formal mau pun profesional serta kepribadian yang olehnya ia dapat bekerja sebagai pemimpin. Bagaimana pemimpin mewujudkan upaya memimpin dengan bekerja sebagai pemimpin itu? Dalam kaitan ini, pemimpin yang bekerja sebagai pemimpin harus mengawali dengan berpikir sebagai pemimpin, bersikap sebagai pemimpin, berkata dan bertindak sebagai pemimpin yang membedakannya dari para bawahan. Berpikir sebagai pemimpin menjelaskan bahwa sang pemimpin harus memikirkan hal besar dan inklusif bagi kepemimpinannya. Bersikap sebagai pemimpin menjelaskan bahwa ia memahami siapa dirinya dan apa perannya. Di sini sang pemimpin tahu sejauh mana serta sebesar apa kuasa kepemimpinan yang ada padanya, serta bagaimanamenerapkannya secara bijak dalam kepemimpinan. Berkata sebagai pemimpin berarti pemimpin berbicara sebagai pemimpin dengan berbijak hati, berbijak sikap serta berbijak cara bicara. Bertindak sebagai pemimpin berarti ia melakukan apa pun berdasarkan pertimbangan matang dan keputusan teguh. Dalam mewujudkan upaya memimpin, langkah utama yang harus diambil di sini adalah  sang pemimpin secara sadar mengelola perilaku (behavior) dan pola (style) kepemimpinannya. Di sini pemimpin menggelola behavior dan style-nya yang khas guna memastikan bagaimana ia mempengaruhi, sehingga orang yang dipimpin bergerak secara terencana dengan melaksanakan tugas (task/ duty) berdasarkan kewenangan (authority), hak (privilege), kewajiban (obligation), tanggung  jawab (responsibility), dan pertanggungjawaban (accountability) yang melekat pada setiap tugas yang dipercayakan kepada bawahannya pada semua jenjang dalam struktur organisasi. Pemimpin secara khusus harus mematutkan kuasa kepemimpinan lengkap (complete leadership power, yaitu kemampuan seutuhnya untuk menyebabkan sesuatu terjadi) yang ada padanya sehingga ia dapat melaksanakan upaya memimpin secara pasti dan bertanggung jawab. Dalam kaitan ini, pemimpin haruslah memastikan kompetensi (karakter – integritas tinggi; pengetahuan – kapasitas teguh dan kecakapan – kapabilitas andal) dirinya yang terus berkembang. Pemastian kompetensi dirinya ini bertujuan meneguhkan sang pemimpin, sehingga ia terbukti mampu dan dapat melaksanakan upaya memimpin secaraefektif (berkualitas – “do the right thing” – mengerjakan hal benar),efisien (berkuantitas – “do the right thing rightly” – mengerjakan hal benar secara baik), sehat (healthy relations – mewujudkan hubungan sehat yang organisasional dan personal) dan produktif(optimum productivity), sehingga upaya memimpinnya dapat berjalan dengan berhasil, langgeng dan finishing well dalam seluruh proses kepemimpinannya.
  1. UPAYA MEMIMPIN DAN ORANG YANG DIPIMPIN. Dalam melaksanakan upaya memimpin, pemimpin harus memastikan “sikapnya” (attitude) terhadap orang-orang yang ada padanya. Di sini, pemimpin harus membangun sikap positif yang menempatkan semua komponen manusianya (SDM) atau orang yang dipimpin sebagai subyek, yaitu rekan sepenanggung jawaban dan rekan kesewarisan keberhasilan. Sikap dasar yang terpenting dari pemimpin di sini adalah menghargai dan mempercayai orang-orangnya. Menghargai dan mempercayai di sini menjelaskan bahwa pemimpin memperlakukan setiap orangnya secara patut, dengan memberi tempat yang patut serta pas guna mewujudkan kapasitas mereka. Pemimpin dalam kaitan ini haruslah memberikan kredit (pengakuan) kepada kapasitas, cara kerja dan kontribusi mereka secara objektif. Sebagai langkah kongkrit mewujudkan tanggung jawab ini, pemimpin harus mengembangkan bawahannya ke arah kematangan (maturity) yaitu kematangan psikologis (yang olehnya mereka willing to work) dan kematangan kerja (able to do/ perform the job) dalam seluruh proses kepemimpinan. Pengembangan kapasitas bawahan ini dapat dilakukan pemimpin melalui pendekatan modeling, on the job training, mentoring, equipping dandeveloping, atau pun pelatihan keahlian khusus. Pemimpin juga harus mempercayai bawahannya dengan mempercayakan (mendelegasikan) tugas, kewenangan, hak, kewajiban, tanggung  jawab dan pertanggungjawaban secara sepadan. Kesepadanan ini dibuktikan melalui adanya pemercayaan tugas secara penuh yang diteguhkan melalui tindakan membangun komunikasi, memberikan dukungan (backing), memonitor (monitoring) dan mengawasi secara nyata guna memastikan akan keterlibatan bawahannya secara penuh dalam seluruh proses kepemimpinan.
  1. UPAYA MEMIMPIN DAN SITUASI KEPEMIMPINAN. Dalam mewujudkan kepemimpinannya, pemimpin harus membangun upaya memimpin dengan bertanggung jawab menetapkan dan mencipta situasi kondusif bagi organisasinya. Situasi kondusif ini menyangkut beberapa faktor penting, antara lain., Pertama, Pemimpin harus mencipta atmosfir terbuka yang menyenangkanuntuk kerja. Kedua, Pemimpin juga harus menyediakan keluasan cakupan otoritas yang diberikan dan diizinkan bagi setiap bawahan mengikuti pendelegasian yang telah dilakukannya. Ketiga, Pemimpin pun harus mematutkan kondisi organisasi dengan situasi kontekstual dalam lingkungan di mana kepemimpinan dijalankan, sehingga kepemimpinannya dapat berjalan sesuai dengan tuntutan situasi secara menyeluruh. Di sini pemimpin harus memastikan bahwa ia sedang bertanggung jawab merekayasa kondisi organisasi “yang menyenangkan” dengan mencipta situasi kondusif yang mewadahkan pelaksanaan upaya memimpin dalam kepemimpinannya. Indikator penting dari terciptanya situasi kondusif ini ialah bahwa setiap komponen orang mengalami adanya suasana keterbukaan dan keleluasaan bergerak, dan berkreasi serta berinovasi yang dinampakkan dalam sikap serta kinerja yang dinamis. Suasana keterbukaan dan keleluasaan ini memberikan apresiasi, kesenangan serta gairah bagi bawahan untuk bekerja. Bawahan senang karena mereka merasa dipercayai dengan adanya kondisi menyenangkan dan keluasan otoritas yang memungkinkan mereka untuk mengeksplorasi segala kemungkinan dan mengekspresikan kemampuan diri dengan mengerahkan seluruh kemampuan dan kapasitasnya. Para bawahan juga merasa terdukung oleh atasan dengan adanya keleluasaan menggunakan cara kerja khas terbaik dari setiap personel. Keleluasaan otoritas dan cara kerja ini membuka ruang yang mendorong bawahan untuk memberikan partisipasi terbaik dalam mewujudkan sinergi dan simultanitas kerja karena mereka menyadari sepenuhnya bahwa kontribusi mereka dihargai oleh sang pemimpin.
  1. UPAYA MEMIMPIN DAN PELAKSANAAN TUGAS KEPEMIMPINAN.Upaya memimpin sangat berkaitan dengan manajemen, yang merupakan praksis kepemimpinan. Dalam mewujudkan tugas kepemimpinan secara berkualitas, pemimpin harus mengawali dengan meneguhkan paradigma kualitas bagi organisasinya. Paradigma kualitas ini dilakukan dengan menerapkan pendekatanTotal Qualitay Management (TQM). Berkaitan dengan ini, pemimpin harus meletakkan dasar-dasar membangun budaya kualitas untuk memanejemeni dengan mengkoordinasi, merencanakan, mengorganisir, memimpin dan mengawasi seluruh pengerjaan tugas dalam proses kepemimpinan. Pemimpin dalam hal ini harus mengawali upaya membangun budaya kualitas dengan menetapkan “falsafah kualitas, konsep kualitas, cara kualitas, perangkat kualitas, proses kualitas, dan produk kualitas yang merupakan kebiasaan unggulan.” Pemimpin dalam mewujudkan budaya kualitas ini harus meneguhkan komitmen seluruh komponen SDM kepada kualitas, disiplin dan performansi tinggi yang dinyatakan secara berkualitas dalam seluruh proses kepemimpinan. Di sini, upaya memimpin sang pemimpin sedang dibangun di atas budaya kualitasseutuhnya, yang mewadahkan kepemimpinan berkualitas. Budaya kualitas ini harus nyata dalam seluruh proses, cara dan produk kepemimpinannya. Pada sisi yang lain, pemimpin yang melaksanakan upaya memimpin sedang memanejemeni dengan performansi tinggi (High Performance Management) yang harus diwujudkan melalui penerapan strategi dan taktik memimpin yang unggul. Pemimpin dalam hal ini harus mewujudkan sikap dan cara memimpin berkualitas. Sikap pemimpin dan cara memimpin berkualitas ini dapat dianalogikan sebagai tanah (tempat berpijak yang kokoh), air (kemurnian, kejernihan dan kelenturan), api(kekuatan dan daya), udara (penyemangat) dan kehampaan(peluang untuk segala kemungkinan).[1] Mewujudkan semua ini, sang pemimpin harus piawai dalam memilih medan untuk bergerak, menggunakan kekuatan kerahasiaan, membuktikan supremasi, mempraktekkan kecepatan gerak dan memberikan tindakkan pungktual yang menentukan.[2] Pemimpin harus membuktikan diri sebagai sangat berkapasitas dalam pikiran, sikap, kata dan tindakan strategis taktis yang jitu serta pas untuk setiap situasi. Dalam hubungan ini, pemimpin harus memastikan bahwa ia sedang mengelola sikapnya sebagai pemenang, dan bersikap seperti nahkoda, maestro, dan panglima pasukan komando yang bergaya strategos taktis sehingga ia akan selalu berada di atas, dan di depan, dalam percaturan, dengan mengerjakan yang terbenar – terbaik, dan berhasil yang membawa keuntungan besar bagi organisasi, staf, bawahan, lingkungan dan diri. Dari hubungan ini, pemimpin harus dapat membuktikan diri bahwa ia adalah seorang strategos taktisian yang andal yang mampu memimpin secara unggul. Pemimpin harus membuktikan diri bahwa ia memiliki sikap percaya diri tinggi, dengan mewujudkan gerakan memimpin terpadu dan tindakan gebrakan kerja yang pasti yang akhirnya menghasilkan sukses yang akan dinikmati banyak pihak. Upaya memimpin yang menghasilkan seperti ini akan membawa pemimpin dan organisasinya pada tempat di mana ia akan memperoleh pengakuan dan penghargaan yang tinggi dari banyak kalangan. Pengakuan ini hanya ada karena sang pemimpin telah membuktikan diri sebagai pemimpin yang kompeten yang telah terbukti dalam seluruh proses upaya memimpin dan produk kepemimpinannya.
IMPLIKASI
Perlu ditegaskan bahwa kepemimpinan, organisasi, para bawahan, proses dan produk dari suatu upaya memimpin membayangi kualitas diri seorang pemimpin. Pemimpin yang berhasrat melaksanakan upaya memimpin secara berkualitas harus mematutkan aspek berikut:
  • Pemimpin harus memastikan bahwa ia telah membangun dirinya menjadi kompeten dengan pembuktian karakter tangguh (ada integritas yang diakui sebagai kredibel), ada pengetahuan teguh(kapasitas yang komprehensif dan khas lebih yang memberi kemampuan berpikir berkualitas), ada kecakapan andal(kapabilitas sosial – hubungan-hubungan dan kapabilitas teknis – yang meneguhkan aspek manajerial dengan kecakapan know how yang andal) yang berkembang dan diimplementasikan secara konsisten di dalam diri pemimpin.
  • Pemimpin secara khusus perlu memastikan bahwa ia mampu dan telah membangun hubungan dengan seluruh unsur manusia secara sehat dan responsif. Hubungan sehat dan responsif ini dibangun di atas sikap penghargaan, kepercayaan dan keterbukaan terhadap kapasitas, cara kerja dan kontribusi setiap unsur SDM dalam tugas yang dipecayakan.
  • Pemimpin harus memastikan bahwa ia telah menyiapkan kondisi kondusif, membangun sistem organisasi menjadi organisasi pembelajar dengan budaya organisasi berkualitas – yang terbukti  efektif, efisien, sehat, dan produktif yang terus dipertahankan secara konsisten melampaui kepemimpinan sekarang, memasuki estafet kepemimpinan masa depan.
  • Pemimpin harus memastikan bahwa ia mengelola sikapnya sebagai pemenang, dan bersikap seperti nahkoda, maestro, dan panglima pasukan komando yang bergaya strategos taktis andal, sehingga ia akan selalu berada di depan, mengerjakan yang terbenar – terbaik, dan berhasil dengan membawa keuntungan besar bagi organisasi, staf, bawahan, lingkungan dan diri.
  • Pemimpin harus dapat membuktikan diri bahwa ia adalah seorang strategos taktisian yang andal dan mampu. Keandalan dan kemampuan ini harus dibuktikan secara konsisten dengan sikap percaya diri tinggi, gerakan terpadu dan tindakkan yang pasti yang diwujudkan melalui gebrakan yang menghasilkan sukses langgeng yang memperoleh pengakuan banyak kalangan dalam seluruh proses dan produk kepemimpinannya.
  • Selamat menjadi pemimpin yang mampu memimpin secara andal yang konsisten.

Spiritualitas Pemimpin Kristen

“….. kamu yang rohani harus memimpin orang … ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut….” (Galatia 6:1b)
PENGANTAR
Tajuk “Spiritualitas Pemimpin Kristen” bersifat tepat waktu.” Unsur tepat waktu dari tema ini didukung oleh kenyataan bahwa kondisi dunia yang berubah dan penuh dengan tantangan ini menuntut adanya pemimpin Kristen dengan kadar spiritualitas tangguh untuk memimpin. Disadari bahwa pemimpin Kristen sesungguhnya adalah pemimpin rohani, yang harus membuktikan kadar kerohaniannya sebagai dasar integritas dirinya yang merupakan kekuatan moral yang menopang diri serta kepemimpinannya. Pada sisi lain, integritas pemimpin tergantung sepenuhnya pada kadar spiritualitasnya, yang menunjuk kepada kepentingan keteguhan spiritualitas pada pemimpin Kristen. Kenyataan ini mendorong untuk bertanya, apa sesungguhnya spiritualitas itu dan seberapa pentingnya spiritualitas bagi seorang pemimpin Kristen? Dalam upaya menjawab pertanyaan ini, maka ada tiga pokok penting yang akan dipercakapkan dalam diskursus ini, yaitu antara lain: Pertama, Memaknai Spiritualitas Pemimpin; Kedua, Dinamika Spiritualitas Pemimpin Kristen sebagai dasar bagi otoritas kepemimpinan; Ketiga, Kadar Spiritualitas Pemimpin Kristen sebagai tolok ukur kualitas kepemimpinan.
MEMAKNAI SPIRITUALITAS PEMIMPIN
Spiritualitas atau spirituality adalah natur rohani yang menjelaskan tentang kadar karakter atau kualitas rohani seseorang. Berdasarkan pengertian ini, bisa dikatakan bahwa spiritualitas membayangi kadar karakter setiap orang, dimana karakter dapat merupakan ekspresi kualitas spiritualitas itu sendiri. Dalam hubungan ini dapatlah dikatakan bahwa spiritualitas adalah hakikat dan sifat hidup yang dibangun di atas kadar rohani atau kerohanian. Kebenaran ini menegaskan bahwa kerohanian yang tinggi merefleksikan spiritualitas yang tinggi yang terbayang dalam karakter yang agung. Hubungan spiritualitas dan karakter ini menjelaskan adanya kaitan integral yang saling mempengaruhi, antara kadar kerohanian seseorang dan karakter serta ekspresi dirinya. Spiritualitas di sini dapat dikatakan juga sebagai dasar bagi integritas seseorang. Di sini, percakapan seputar spiritualitas pemimpin dalam diskursus kali ini memiliki relevansi kuat untuk kehidupan kepemimpinan Kristen. Spiritualias juga merupakan ekspresi kesadaran diri akan kepentingan spiritulitas tinggi bagi pemimpin Kristen. Kepentingan spiritualitas tinggi bagi pemimpin Kristen dibangun oleh kenyataan bahwa spiritualitas itu adalah penting yang berfungsi sebagai dasar untuk mewujudkan kepemimpinan yang berkualitas. Tidaklah mengherankan, bahwa Rasul Paulus di dalam Galatia 6:1b mengatakan, “….. kamu yang rohani harus memimpin orang … ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut….” Makna dari nasehat ini dalam hubungannya dengan tema “Spiritualitas Pemimpin Kristen” sesungguhnya menekankan kepada faktor pemimpin, dimana kadar dan kekuatan kerohaniannya merupakan landasan bagi kekuatan etika – moralnya untuk memimpin yang olehnya ia dapat mewujudkan perannya mengangkat orang lain.
DINAMIKA SPIRITUALITAS PEMIMPIN KRISTEN DAN OTORITAS KEPEMIMPINAN.
Disadari bahwa dinamika spiritualitas pemimpin Kristen bersumber dari Allah. Tatkala Rasul Yohanes berbicara tentang kebenaran seputar otoritas spiritualitas Kristen, ia menegaskan, “Barangsiapa mengatakan bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup seperti Kritus telah hidup” (I Yohanes 2:6). Kebenaran ini menunjuk bahwa sesungguhnya Yohanes sedang menegaskan tentang sumber otoritas dari spiritualitas Kristen itu. Kebenaran seputar sumber otoritas Kristen ini mengandung tiga sisi yang harus dipahami dan dihidupi oleh setiap pemimpin Kristen, yaitu antara lain:
Pertama, Otoritas spiritualitas pemimpin Kristen hanya ada pada setiap orang yang ada di dalam Kristus. Kebenaran ini diteguhkan oleh Firman yang menegaskan bahwa “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan yang baru; yang lama sudah berlalu, sesunggunya yang baru sudah datang” (II Korintus 5:17). Di sini otoritas spiritualitas itu menjadi kokoh oleh kekuatan Roh Kudus, yang diteguhkan oleh Firman, bahwa “Allah memberikan kepada kita … roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban” (II Timotius 2:7b). Indikator dari otoritas rohani ini adalah adanya kekuatan (kuasa) rohani untuk hidup dan mengabdi berlandaskan kasih yang mengangkat dengan kadar penguasan dan ketertiban diri yang tinggi. Kebenaran ini dipastikan melalui tindakan kasih karunia Allah yang menyelamatkan itu, dimana Rasul Paulus mengatakan bahwa “Di dalam Dia kamu ….. dimeteraikan dengan Roh Kudus yang dijanjikan itu” (Efesus 1:13). Memeteraikan kebenaran ini di dalam jiwa pemimpin Kristen, Profesor J. Robert Clinton mengatakan bahwa “Orang yang memandang otoritas rohani sebagai dasar kekuasaan untuk melayani harus mengakui Sumber dari semua otoritas: (yaitu) Allah.” Pengakuan ini merupakan sikap sambutan iman atas apa yang telah dikaruniakan TUHAN Allah kepada pemimpin Kristen, sebagai dasar otoritas spiritualitas kepemimpinannya. Sikap ini menyebabkan ia berendah hati untuk mengakui bahwa “Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, Firman TUHAN semesta alam” (Zakharia 4:6).
Kedua, Otoritas spiritualitas pemimpin Kristen harus dibuktikan dengan adanya tanggung jawab memberi diri dipimpin oleh Roh Kudus. Indikator kuat bahwa seorang pemimpin adalah pemimpin rohani ialah bahwa ia hidup oleh Roh Kudus, yang olehnya ia dapat menguasai dirinya dengan tidak menuruti keinginan daging (Galatia 5:16-17). Indikator kuasa positif yang pasti ialah bahwa dari kehidupan pemimpin rohani yang dipimpin oleh Roh Kudus, akan nyata kekuatan kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri (Galatia 5:22). Kebenaran inilah yang menjelaskan adanya dinamika kredibilitas pemimpin rohani.
Ketiga, Otoritas spiritualitas pemimpin Kristen dibuktikan dengan adanya integritas diri yang teguh. Integritas diri itu kebaikan hati, kebenaran, kemuliaan, keadilan, kesucian, kesedapan, kemanisan, kebaikan dan kepatutan untuk dipuji, keadilan, kesetiaan, ketaatan dan kejujuran yang membawa kemuliaan bagi Allah, karena segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia, dan bagi Dialah kemualiaan sampai selama-lamanya (Filipi 4:5,8; Yesaya 32:1-2; Roma 11:36). Dalam hubungan ini dapat ditegaskan bahwa dinamika spiritualitas pemimpin Kristen akan ada dan nampak pada integritas diri pemimpin yang ada di dalam Kristus, yang relah memberi diri dipimpin oleh Roh Kudus. Penyerahan diri ini adalah dasar kekuatan yang menopang pemimpin membuktikan integritas karakter Kristen yang teguh oleh kuasa Roh Allah. Dengan integritas diri ini pemimpin dapat berdiri teguh sebagai pemimpin rohani yang tangguh dalam menghadapi serta menjawab tantangan perubahan dunia yang mengancam.
KADAR SPIRITUALITAS PEMIMPIN KRISTEN DAN KUALITAS KEPEMIMPINAN.
Menengok balik akan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa kadar kualitas spiritualitas pemimpin Kristen berbanding sejajar dengan kualitas kepemimpinannya. Maksud dari pernyataan ini adalah bahwa spiritualitas yang berkualitas menentukan adalah kekuatan bagi kualitas kepemimpinan. Dapat juga dikatakan bahwa kadar kualitas spiritualitas menentukan ketahanan dan kelanggengan kualtias kepemimpinan pemimpin rohani. Menguraikan kebenaran tentang kadar kualitas spiritualitas, dapatlah dikatakan bahwa faktor penting bagi peneguhan kadar kualitas spiritualitas  pemimpin Kristen adalah antara lain:
Pertama, Pemimpin rohani membangun diri di dalam Firman Allah (Mazmur 1; Yosua 1:7-9), sehingga ia memiliki karakter dan integritas diri yang kuat dimana ia dilengkapi untuk setiap perbuatan benar dan baik (II Timotius 3:15-17);
Kedua, Pemimpin rohani menjaga hatinya, sehingga ia rendah hati (Amsal 4:23) dan memimpin seperti Yesus Kristus yang memimpin dari hati (Matius 9:34-38), memimpin berdasarkan kasih yang mengangkat (Yohanes 13:1, 34-35), dan memimpin dengan kekuatan kebenaran dan kebaikan (Yohanes 14:6; Yesaya 32:1-2, 8, 117), sehingga ia mengamalkan damai, keadilan dan kesejahteraan dalam kepemimpinannya.
Ketiga, pemimpin rohani memimpin dengan mengandalkan TUHAN Allah (Yeremia 17:7-8; 9:23-24), sehingga ia menjadi bijaksana dan teguh dalam kepemimpinan melewati berbagai kondisi sulit (Amsal 18:10; 24:10; I Raja-raja 3:9, 12, 28).
Keempat, pemimpin rohani memimpin sebagai pemimpin teladan yang membawa berkat bagi orang yang dipimpin dan lingkungan kepemimpinan (Ibrani 13:7,17).
Kelima, pemimpin rohani memimpin dengan penuh pengabdian sebagai hamba dan pelayan (Markus 10:41-47; Lukas 17:10) yang dibuktikan melalui pelayanan terhadap orang yang dipimpin (I Petrus 5:1-4). Pemimpin yang memimpin dengan melayani seperti Yesus Kristus sajalah yang adalah pemimpin yang dapat membuktikan kualitas kepemimpinan yang tidak lekang karena panas dan tidak lapuk oleh hujan. Kebenaran ini ditegaskan oleh Nabi Daniel yang mengungkapkan, “Dan orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bindatng-bintang, tetap untuk selama-lamanya” (Daniel 12:3).
RAMPUNGAN
Melihat uraian sebelumnya tentang otoritas spiritualitas kepemimpinan dan tentang kualitas kadar spiritualitas yang memiliki pengaruh terhadap kadar kualitas pemimpin Krsten dan kepemimpinannya, dapat dikatakan bahwa “kekuatan dan kualitas pemimpin terletak pada otoritas dan kadar spiritualitasnya.” Di sini dapat ditekankan bahwa “pemimpin Kristen dengan kadar otoritas spiritualitas tinggi sajalah yang akan membuktikan diri sebagai pemimpin yang bekualitas dan dapat mempertahan kualitas diri menghadapi tantangan dan tekanan dalam menjalankan kepemimpinan yang diembannya. Dari sini dapat disimpulkan bahwa “Pemimpin Kristen yang menjaga otoritas spiritualitas dan mengembangkan kadar spiritualitasnya adalah pemimpin berkualitas yang akan bertahan serta siaga menghadapi kenyataan kepemimpnan pada segala masa (II Timotius 4:1-6). Pemimpin seperti ini adalah pemimpin yang disiapkan untuk menghadapi masa depan yang sulit dan akan bertahan serta keluar sebagai pemenang dalam menjalankan kepemimpinannya secara langgeng dan berhasil (Nehemia 2:20).
Akhirnya, spiritualitas sejati hanya ada karena pemimpin Kristen hidup dan mengabdi seperti TUHAN-nya (I Yohanes 2:6), dimana ia mampu memimpin dari hati (yang penuh hikmat; Matius 9:34-38; Yesaya 32:8), berlandaskan kasih (yang mengangkat sesama Yohanes 13:1, 34-35; I Yohanes 4:7-10) dengan kekuatan kebenaran dan kebaikan (yang membawa damai sejahtera; Yesaya 32:17, 1-2; 15:15-16; Yohanes 14:6, 27; Matius 5:9). Dan lagi, spiritualitas sejati meneguhkan hubungan pemimpin dengan TUHAN Allahnya, Sang Pencipta, karena olehnya iahidup kudus (I Petrus 1:15-16); dan dapat melihat Allah (Matius 5:8), serta bersekutu degan DIA, hidup dalam ketaatan akan Firman berbasiskasih setia yang ditambatkan pada hatinya sehingga ia dihormati oleh TUHAN Allah dan manusia serta berhasil dan menjadi berkat dalam kepemimpinannya (Amsal 3:1-10; Kejadian 12:1-3). Selamat dan sukses bagi kemuliaan TUHAN Yesus Kristus. TUHAN Allah kiranya memberkati dengan limpahnya. Terimakasih
Motivator,

Dewakah seorang Hamba Tuhan?

PENILAIAN YANG SALAH

Kehidupan Imam Eli dan keluarganya adalah salah satu contoh yang sangat realistis dan tepat dalam setiap zaman, termasuk pada zaman dimana kita hidup sekarang ini. Eli adalah seorang hamba Tuhan, Imam yang melayani di Bait Suci Tuhan.
Sebenarnya setiap orang Kristen adalah hamba Tuhan (Roma 6:22), namun dalam topik kali ini, yang dimaksud hamba Tuhan adalah seseorang yang secara khusus terpanggil sebagai full (part) timer dalam bidang pelayanan kerohanian didalam suatu lembaga pelayanan gereja atau parachurch (misalkan pendeta atau penginjil).
Seringkali secara umum jemaat memandang hamba Tuhan sebagai suatu contoh atau pola teladan kehidupan yang ideal, yang sempurna, baik dalam kehidupan secara pribadi, dalam pelayanan dan termasuk pula dalam keluarganya.
Bila suatu saat, oleh salah satu badan intelejen tercanggih yang ada diantara jemaat, terbongkar suatu rahasia, bahwa ada seorang hamba Tuhan yang mempunyai kejelekan, kelemahan, kekurangan apalagi dosa-dosa tertentu, baik yang dilakukan secara pribadi, atau dari pihak keluarganya, maka hamba Tuhan ini akan seperti babi yang dicincang, diadili, dan dihakimi oleh jemaat-jemaatnya sebelum ia dipanggang.
Namun ada pula reaksi lain dari sebagian jemaat yang hatinya terlalu lembut. Mereka tidak sanggup secara kanibal memanggang habis hamba Tuhan tersebut, namun sempat mengalami kekecewaan (stress) yang sangat mendalam, dan imannya rontok gara-gara perbuatan hamba Tuhan yang pernah dibanggakannya itu. Ia tidak lagi mau kegereja, berdoa dan melayani. Jadi boleh dikata, secara matematik, imam adalah FUNGSI dari PERBUATAN hamba Tuhan? Lagi-lagi hamba Tuhan yang dipersalahkan. Kasihan memang menjadi hamba Tuhan itu. Ia dianggap bukan seperti manusia lagi, tetapi seperti manusia luar angkasa, yang harus mempunyai kelainan-kelainan dibandingkan dengan manusia di bumi ini.
TOPENG-TOPENG YANG DISUKAI
Pengadilan yang sangat “menakutkan” hamba-hamba Tuhan ini, salah satu akibatnya, dapat membuat mereka hidup serba munafik dan menutup-nutupi keberadaan dirinya yang sebenarnya. Ia tidak mau kelehamahannya diketahui oleh jemaatnya, ia ingin supaya jemaatnya selalu memandang dirinya sebagai orang yang tidak punya kekurangan, kelemahan dan dosa-dosa. Makin jemaatnya kagum padanya, makin senang hatinya.
Dan ternyata jemaatnya juga senang “ditipu” jemaat sangat senang bila ada hamba Tuhan yang suci 100%, selalu sempurna, selalu menyenangkan hati mereka, selalu tidak punya kesalahan, kekurangan dan lain sebaginya. Hamba Tuhan yang seperti itulah yang selalu dipuji-puji dan diagungkan.
Sayang, banyak hamba Tuhan yang terjebak dalam dunia sandiwara ini, dan banyak pula jemaat yang menikmati sandiwara yang dituntutnya sendiri. Jemaat “menciptakan” hamba Tuhan yang sempurna, hebat dan tanpa cacat menurut selera yang mereka inginkan; dan hamba Tuhan juga me”make-up” wajahnya menurut selera yang jemaatnya inginkan.
Kasihan memang bagi hamba Tuhan yang tidak pandai ber“make-up” Ia selalu diejek, dicela dan dibenci karena “wajahnya” yang jelek.
Ada jemaat yang berkata, bagi yang mau menjadi hamba Tuhanya tau sendiri konsekwensinya, ia harus bisa menjadi lebih dari manusia biasa !! Ha, apa betul ya dan apa bisa ya?

MEMANDANG HAMBA TUHAN DALAM ALKITAB
Herannya ternyata Alkitab berkata lain tentang hal ini. Alkitab tidak pernah me“make-up” hamba Tuhan, dan Alkitab tidak pernah memperkenalkan hamba Tuhan seperti makhluk luar angka yang mempunyai “keanehan-keanehan” yang tidak dimiliki oleh manusia biasa.
Alkitab tidak pernah menyatakan ada manusia luar biasa didunia ini. Elia ternyata juga mempunyai dosa dan kelemahan (Yakobus 5:17a), Musa mempunyai dosa dan kelemahan, Yosua mempunyai dosa dan kelemahan. Meskipun Alkitab tidak mengungkapkan dosa-dosa dan kelemahan dari Henokh ataupun Yusuf anak Yakub, namun bukan berarti Henokh maupun Yusuf tidak mempunyai dosa dan kelemahan.
Tuhan Yesus pernah berkata, bahwa tidak ada seorangpun yang baik (Lukas 18:19), didalam kitab Roma 3:10-12,23 dikatakan, bahwa tidak ada seorangpun yang benar, semua sudah berbuat kejahatan, dalam kitab Yesaya 64:6 nabi Yesaya pun mengakui, bahwa perbuatan baik manusia itu seperti kain yang kotor dihadapan Allah.
Dengan perkataan lain Alkitab menegaskan, bahwa tidak ada seorangpun didunia ini yang tidak punya dosa, yang tidak punya kelemahan, kekurangan, keterbatasan, dan perbuatan-perbuatan tercela, termasuk hamba Tuhan!!. Karena itu Alkitab menegaskan, tidak ada seorangpun yang dapat diselamatkan karena perbuatannya (Efesus 2:8-9) !!.
Jadi kalau ada jemaat yang melihat ada hamba Tuhan yang tanpa cacat, cela, tanpa ada dosa dan kelemahan apapun, yang dinilai sangat hebat luar biasa, seperti SIX MILLION DOLLAR MAN atau WONDER WOMAN, maka ada dua kemungkinan yang terjadi: pertama jemaat itu belum sungguh-sungguh mengenal siapa sebenarnya hamba Tuhan itu, kedua hamba Tuhan itu sangat pandai bersandiwara, menciptakan kesalahan palsu sehingga jemaat itu tertipu.
Ada jemaat yang beri komentar, kalau begitu kita jangan terlalu dalam mengenal siapa hamba Tuhan itu sebenarnya, nanti kita akan kecewa kalau mengetahui kelemahan dan dosanya. Sikap seperti ini juga tidak dapat dibenarkan, sebab perbuatan semacam ini sama dengan usaha menipu diri sendiri dan tidak berani menghadapi realita.
Bila kita tetap mau memandang raja Daud, Musa, Elia, Abraham, sebagai hamba-hamba Tuhan, meskipun kita juga diberitahu akan kelemahan, kekurangan dan bahkan dosa-dosa mereka, mengapa, kita tidak dapat memandang hamba-hamba Tuhan pada zaman sekarang ini masa seperti kita memandang hamba-hamba Tuhan yang diperkenalkan Alkitab? Atau apakah penilaian kita sudah tidak lagi berpatokan pada apa yang Alkitab beritakan dan ajarkan, dan kita mau memandang hamba-hamba Tuhan zaman sekarang harus melebihi kriteria hamba-hamba Tuhan yang disaksikan oleh Alkitab?

TAK KENAL, MAKA TAK SAYANG, MAKIN MENGENAL MAKIN MEMBENCI ?
Ada seorang pemuda yang menceritakan, bahwa ia sekarang tidak lagi mengasihi istrinya setelah ketahuan, bahwa istrinya ternyata adalah seorang yang pernah berzinah pada masa remajanya. Katanya, dahulu pada waktu masih berpacaran, ia sangat mengasihi calon istrinya. Dalam kasus seperti ini kita perlu bertanya, apakah kasih yang seperti ini dapat disebut sebagai kasih yang benar? Kalau kita mau lebih teliti, sebenarnya pemuda ini dari dahulu TIDAK PERNAH mengasihi pacarnya yang sekarang telah menjadi istrinya. Ia ‘mengasihi” dalam ketidaktahuan dan dalam pengenalan yang meraba-raba, atau sekedar emosi belaka. Ia tidak sungguh-sungguh mengenal siapa yang dikasihinya.
Orang yang mengasihi seseorang tanpa dasar pengenalan yang benar dan waktu yang cukup, maka kasih itu belum teruji dan perlu dipertanyakan kesungguhannya.
Demikian pula dengan orang yang begitu menghormati hamba Tuhan, dan sangat mengaguminya, padahal ia belum tahu dengan benar siapa hamba Tuhan itu dan bagaimana kehidupan sehari-harinya, maka kekaguman itu hanya merupakan kekaguman semu atau kekaguman yang kekanak-kanakan, yang hanya berdasarkan penilaian lahiriah saja. Kekaguman itu akan dengan mudah lenyap, bila pengetahuan kita ditambah dengan informasi-informasi yang tidak memenuhi kriteria kekaguman tersebut.
SIKAP YANG TEPAT
Akitab mengajarkan pada kita, bahwa kita harus saling menghormati, mengasihi, dan khususnya kepada hamba-hamba Tuhan (I Tesalonika 5:12-13, I Timotius 5:17), bukan karena mereka tidak pernah berbuat dosa, namun karena kita ini adalah sesama anak-anak Tuhan, sesama murid-murid Kristus yang harus saling menopang dan menguatkan (Yohanes 13:34-35)
Ilustrasi tubuh yang diberikan oleh rasul Paulus dalam kitab Korintus menunjukkan adanya saling ketergantungan mutlak dari setiap anggota tubuh. Tidak ada anggota tubuh yang merasa dirinya paling hebat, paling tinggi dan tidak membutuhkan anggota yang lain. Tidak ada anggota tubuh yang bersukacita bila ada anggota lainnya yang sedang menderita atau jatuh dalam kelemahannya (I Korintus 12:21-26).
Hamba Tuhan tidak mungkin dapat membangun jemaat seorang diri saja. Ia membutuhkan partner kerja, ia membutuhkan support (dukungan), ia membutuhkan anggota-anggota tubuh Kristus yang lain.

HAMBA TUHAN DAN KELUARGANYA
Sebenarnya peran membina keluarga yang harmonis, baik itu oleh hamba Tuhan maupun jemaat umum mempunyai bobot yang sama beratnya yaitu sebagai seorang Kristen, sebagai murid Kristus, yang harus memberikan teladan terbaik dalam setiap perbuatannya.
Mari kita melihat kehidupan imam Eli. Meskipun Eli adalah seorang hamba Tuhan ternyata keluarganya berantakan. Alkitab menegaskan, bahwa kesalahan Eli adalah membiarkan anak-anaknya berbuat hal yang tidak benar dipandang Tuhan, dan bahkan lebih daripada itu, Eli ikut menikmati hasil perbuatan yang benar dari anak-anaknya. Eli tidak memperhatikan peringatan-peringatan yang sudah disampaikan kepadanya dengan serius, dan ia lebih menghormati anak-anaknya daripada Tuhan (I Samuel 2:29).
Ini merupakan peringatan bagi semua orang, bahwa kehidupan hamba Tuhan dan keluarganya bukan merupakan jaminan pasti serba sukses, lancar, tanpa kesulitan dan cacat cela. Mendidik anak dan membina hubungan yang harmonis dalam keluarga adalah tantangan yang sama berat dan sulitnya bagi setiap anak Tuhan!.
Alkitab dengan terbuka juga menunjukkan banyaknya “kegagalan” dalam memelihara hubungan yang harmonis dari anak Tuhan yang baik-baik, seperti anak Samuel (I Samuel 8:3), keluarga Abraham, keluarga Ishak, keluarga Yakub, keluarga Daud, keluarga Salomo, dan seterusnya.
Dari contoh-contoh diatas, kita seharusnya tidak lagi saling menuding dan menghakimi, tapi waspadalah!. Kegagalan dalam keluarga yang sedang kita soroti dapat juga terjadi dalam keluarga kita kelak. Kesalahan imam Eli juga dapat kita lakukan sendiri bila kita lengah.
Bila kita menyadari prinsip satu tubuh, maka kegagalan dari salah satu anggota tubuh, adalah bagian dari kegagalan kita juga, kegagalan kita dalam membangun sesama anggota tubuh Kristus. Kejatuhan salah seorang anggota tubuh Kristus adalah merupakan salah satu akibat dari bentuk ketidak pedulian kita pada saudara kita seiman.
Seharusnya bila kesatuan tubuh itu nyata, maka kejatuhan tubuh yang lain dapat dihindarkan dengan menjalin kesehatian, saling mendoakan, menguatkan, mengingatkan, menegur, menasehati, memberi saran-saran, mencarikan jalan keluar, mengatasi segala godaan dengan tindakan pencegahan-pencegahan.

PENUTUP
Orang yang dibenarkan Allah bukanlah orang yang mampu untuk tidak berbuat dosa sama sekali dalam kehidupannya, namun orang yang mau ditegur, dan mau menyadari akan dosa-dosanya, serta mengakuinya dihadapan Tuhan dengan penyesalan, dan akhirnya bertekad untuk terus menerus belajar memperbaiki kehidupannya hari demi hari makin sesuai dengan kehendak Tuhan.
Tuhan Yesus bukan mengasihi orang yang sempurna dan benar, melainkan orang berdosa yang menyadari dan menyesali akan dosanya, serta mau datang kepada Tuhan dan belajar terus menerus untuk meperbaiki kehidupannya.
Yang tidak disenangi oleh Tuhan justru adalah orang yang berpura-pura, orang yang selalu merasa dirinya benar dan membenarkan dirinya sendiri, tidak mau mengakui segala kekurangan dan kelemahannya, orang yang membanggakan perbuatannya yang “saleh”, yang selalu membandingkan dirinya lebih baik dari orang lain (Lukas 18:9-14, bnd Markus 2:17).
Keluarga Eli dan hamba Tuhan yang lain dalam Alkitab menjadi peringatan bagi kita semua, supaya kita tidak mengulangi kesalahan yang sama dan supaya kita tidak gampang-gampang menghakimi semua orang dengan seenaknya. Orang Farisi dan ahli Taurat adalah figur yang dipaparkan Alkitab kepada kita sebagai tipe orang yang selalu merasa dirinya paling benar dan menganggap orang lain lebih jelek dari dirinya.
Bila suatu saat kita melihat kelemahan dan kejatuhan seseorang, jangan cepat-cepat tertawa sebelum kita sadar, bahwa suatu saat kita juga bisa jatuh bila mengalami godaan yang sama dengan sikon yang sama pula (bnd I Korintus 10:12, Matius 7:3).
Sebenarnya tidak ada satupun diantara kita yang layak dihadapan Allah. Kita semua sama-sama jeleknya. Tuhan mengajarkan kita supaya mengasihi sesama kita bukan karena orang telah berbuat baik kepada kita atau telah memuaskan hati (keinginan dan konsep) kita (Lukas 6:23).
Tuhan beserta kita sekalian. Amin.
Pdt. Ir Andi Halim, S.Th

kepemimpinan kristen