Jumat, 26 November 2010

Gelar Fiktif antara Gengsi dan Dekadensi

oleh: Pdt. Manati Immanuel Zega, S.Th.


Pagi yang cerah itu, saya baru selesai melayani kebaktian doa pagi di gereja. Tiba-tiba datanglah seseorang yang mengantarkan undangan wisuda, atas nama seseorang yang saya kenal baik. Pembawa undangan ini berpesan, bahwa saya sangat diharapkan hadir dalam acara wisuda pasca sarjana theologi rekan tersebut.  

Ketika membuka undangan, saya kaget. Bagaimana tidak. Pertama, tidak pernah tahu kapan dia kuliah. Kedua, setahu saya, tidak ada sekolah Theologi pada alamat tersebut.

Dengan penasaran, langsung bergegas menuju alamat dimaksud. Kurang lebih 45 menit, berkeliling kota Solo namun tidak menemukan Sekolah Tinggi Theologi penyelenggara pendidikan itu. Hampir saja saya putus asa dan ingin pulang. Namun, untuk terakhir kalinya saya memutuskan mencari kembali alamat tersebut dengan keluar masuk kampung.

Akhirnya, alamat yang dimaksud ketemu juga. Ternyata, hanya sebuah gereja di kampung yang anggotanya kurang lebih 100 orang. Sedih rasanya. Dengan seksama saya memperhatikan tempat itu dan ternyata bukanlah lembaga pendidikan theologi formal. Tetapi anehnya, di situ diselenggarakan pendidikan theologi dengan program pasca sarjana. Saya tidak tahu, apakah ada izin penyelenggaraan pendidikan theologi di tempat itu atau hanya semacam kursus. 

Yang menjadi pertanyaan saya adalah, bagaimanakah mutu pendidikan yang dihasilkan? Siapa dosennya? Matakuliah apa saja yang diajarkan. Bagaimana beban kredit yang harus ditempuh oleh seorang mahasiswa? Atau, yang dipentingkan hanya gelar saja dan bukan bobot akademisnya? Saya juga tidak tahu.

Di tempat lain, seorang hamba Tuhan dari Salatiga menceritakan bahwa rekannya yang baru saja menyelesaikan pendidikan S1 theologi tiga tahun yang lalu, sekarang  telah bergelar doktor (S3). Dari perguruan tinggi/universitas mana? Juga tidak jelas.  Tidak ada yang tahu, hanya Tuhan dan pelakunya. 

Peristiwa yang lain juga diceritakan oleh seorang rekan hamba Tuhan. Dia berkata, seorang hamba Tuhan yang tinggal di Semarang dan dikenalnya dengan baik, sekarang bergelar doktor. Doktornya diperoleh hanya dengan menulis belasan lembar disertasi, yang secara ilmiah belum tentu dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam pemikiran saya muncullah pertanyaan. Mengapa hamba Tuhan sekarang (tidak semua) berlomba mendapatkan gelar akademis secara "tidak halal"? Apakah ini merupakan gejala hamba Tuhan millenium III?

Gelar, Ilusi Sesat Keberhasilan
Memang harus diakui, sebagian orang berpendapat bahwa dia dapat berhasil melalui sederetan gelar sarjana yang dimilikinya. Masyarakat masih mengganggap pendidikan formal satu-satunya kunci meraih sukses. Karena itu, orang tua tidak segan-segan menjual tanah dan sawahnya demi keberhasilan anak-anaknya, dengan harapan setelah kuliah menjadi sukses. Karena itu, banyak orang berlomba-lomba meraih gelar, termasuk para hamba Tuhan. Yang penting dapat gelar, mutu pendidikan tidak dipersoalkan.

Ketika, saya praktek pelayanan di Jogja tahun 1992 yang lalu, saya dikagetkan dengan khotbah seorang “doktor theologi” yang tidak bisa membedakan “kateketika” dengan “homilitika.” Dalam sebuah kebaktian Minggu pagi, pengkhotbah dengan gelar “doctor” tersebut mengungkapkan istilah teologia yang salah. Dia berkata, “kita harus berkhotbah dengan aturan kateketika yang baik.” Berulangkali istilah “kateketika” diulangi, sehingga saya berpendapat bahwa pengkhotbah tersebut tidak salah ngomong.

Ternyata, dia tidak dapat membedakan “kateketika (Ilmu yang mempelajari bimbingan pelajaran Alkitab untuk jemaat baru yang dipersiapkan untuk dibaptis)” dengan “homilitika (ilmu berkhotbah)”. 

Dari kasus ini, saya menyimpulkan bahwa pengkhotbah dengan gelar "doktor teologia" tersebut pasti tidak pernah belajar teologia formal. Darimana doktornya? Saya juga tidak tahu.

Kondisi ini, mengingatkan saya pada pernyataan Pdt. Chris Marantika, Th.D., D.D. di hadapan para winisuda, 18 Juni 2001 yang lalu. Chris Marantika menegaskan, "jangan terjebak dengan lembaga pendidikan teologia warung soto dan warung bakso". Artinya, kapan saja dibutuhkan asal punya banyak uang, gelar theologi dapat dibeli. Hal senada pernah disampaikan Pdt. Pontas Pardede, Ph.D. pada Juli 1998. Pontas berkata, "jangan ramai-ramai membeli gelar sarjana, ketika Anda tidak mampu belajar di bangku pendidikan tinggi theologi".

Kedua mantan ketua Persekutuan Injili Indonesia dan pimpinan Sekolah Tinggi Theologi Injili ini, mengingatkan bahwa gelar pendidikan theologi adalah gelar akademis yang harus dapat dipertanggungjawabkan.

Saya adalah orang yang meyakini bahwa gelar sarjana dalam bidang theologi bukanlah satu-satunya kunci keberhasilan pelayanan. Meskipun pendidikan theologi sangat penting dan harus, apabila dilakukan pada lembaga pendidikan theologi yang sehat dan bertanggungjawab. Tetapi, sungguh memalukan apabila dilakukan dengan menghalalkan segala cara.

Thomas Alfa Edison, hanya menempuh pendidikan formal selama tiga bulan saja. Setelah itu drop out karena dianggap otak udang oleh gurunya. Namun, nama Edison, begitu terkenal bahkan diakui sebagai ilmuwan besar dengan 3000 penemuan. Darimana keberhasilannya? Apakah dari gelar? Ternyata tidak. Edison berkata bahwa keberhasilannya, 1% is inspiration (inspirasi/kemampuan bawaan) and 99 % is perspiration(keringat/kerja keras). Jelaslah bahwa gelar akademis bukanlah satu-satunya faktor pendukung keberhasilan seseorang, tetapi juga kerja keras. Termasuk dalam pelayanan para hamba Tuhan. 

Maxwell Malt mengatakan salah satu ciri keberhasilan seseorang adalah "sense of direction". Artinya, seseorang mampu mengatur diri sendiri meskipun tidak ada yang mengawasi. Hamba Tuhan yang tidak dapat mengatur dirinya dan keinginannya berarti tidak memiliki “sense of direction.” Apa saja dilakukan untuk mencapai keinginannya. Termasuk meloloskan semua cara demi gelar akademis yang diingini.

Hamba Tuhan yang sungguh-sungguh akan dihargai Tuhan,  bukan dari gelarnya melainkan kesetiaannya melayani, didasari karena mencintai Tuhan semata-mata.


Gelar Dibeli, Bukti Dekadensi Moral
Berlomba-lomba membeli gelar, menurut saya inilah bukti bahwa hamba Tuhan telah turut melecehkan pendidikan Nasional di tanah air. Juga, mereka telah kehilangan rasa percaya diri untuk bersaing, sehingga segala cara ditempuh agar dihargai dan dihormati jemaat.  Tetapi, di sisi lain mereka telah terlibat dalam dekadensi moral. Mengapa? 

Karena sudah tidak mengindahkan suara hati nuraninya. Saya yakin, ketika seseorang membeli gelar sesungguhnya hati nuraninya berbicara tetapi diabaikan. Mungkin di depan, mereka dihormati jemaat, tetapi di belakang mereka dicibir karena jemaat tahu ketidak jujuran hamba Tuhan dalam dunia akademis.

Bagaimana mungkin baru lulus S1, tiba-tiba sudah bertitel DR (Doktor) satu tahun kemudian. Itu 'kan imposible. Tetapi, juga inilah kenyataan. Hamba Tuhan yang selama ini dianggap sebagai figur moral ternyata tidak demikian.  Bahkan, mungkin pada masa yang akan datang gelar pendidikan theologi diremehkan dan direndahkan karena paling gampang memperolehnya. Asal ada uang sekian juta, dapat menentukan gelar yang dikehendaki. Berbahaya bukan?

Solusi yang Tepat
Lalu, bagaimana seharusnya sikap para hamba Tuhan? Menurut saya, lebih baik kita memperhatikan ungkapan dari seorang guru. Dia bukan Kristen, tetapi bagi saya pernyataannya benar. Khong Hu Chu berkata: "bagiku belajar adalah pekerjaan seumur hidup. Aku tidak akan berhenti melakukannya sebelum aku mati". Saya pikir pernyataan ini benar. Sebab belajar tidak hanya dilakukan di bangku kuliah. Tetapi, dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja. Bahkan, "universitas kehidupan" menyajikan banyak pelajaran, apabila dapat menangkapnya dengan sungguh-sungguh.

Peristiwa alamiah di sekitar kita merupakan sumber pelajaran yang amat berharga. Setiap saat kita dapat menyaksikan keperkasaan Tuhan, melalui karyaNya yang agung dan luar biasa. Belajar dengan sungguh-sungguh pasti ada hasilnya. 

Pdt. Dr. Stephen Tong, salah seorang hamba Tuhan yang saya kagumi. Banyak orang tidak senang dengan dia, karena pernyataannya yang kadang-kadang menyakitkan hati. Tetapi, saya adalah salah seorang yang mengaguminya. Mengapa? 
Karena semangat belajarnya yang sangat tinggi.
Dalam suatu acara National Reformed Conference yang diadakan di Wisma Kinasih tahun 1999. Saya sempat ngomong-ngomong dengan beliau. Dan, salah satu pernyataannya yang terus saya ingat adalah, “anak muda, teruslah berlajar. Saya saja sudah tua, di tengah kesibukan yang ada saya terus belajar.”

Stephen Tong, bukanlah lulusan luar negeri dari universitas terkenal. Pendidikan formalnya hanyalah D3 Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang. Tetapi, mutu ilmu dan pelayanannya tidak kalah dengan doktor dari Universitas kenamaan. Rahasianya apa? 

Ternyata, dia terus belajar. Tidak ada waktu yang dilewatkannya tanpa belajar dengan sungguh-sungguh. 

Bagaimana dengan  Anda? Sudah Anda belajar? Atau, hanya butuh gelar akademisnya?

Solo, 07 Mei 2002



Sumber:
http://www.glorianet.org/index.php/manati/922-gengs

Tidak ada komentar:

Posting Komentar